Ketika purnama malu menampakkan wajahnya yang ayu
Ketika lembut halimun menyusup diantara tulangku yang rapuh
Aku terhanyut dalam pelukan dan ayunan kesombongan
Terlelap dan malas tuk bangkit menyambut limpahan nur Illahiyah
Sibuk mengagumi ke-jahilan akal dan hatiku
Lalai Menikmati ketinggian derajat kema'rifatanku
Sejenak ku tersadar, Saat bola api bergulir menyambut pagi
Tapi ketika keserakahan memeluk mesra tubuhku, membawaku kembali dalam ilusi duniawi
Memenjarakanku dalam fatamorgana kebahagiaan
Menelan bulat, setiap tulang dan dagingku yang membusuk
Haruskah aku menikmati buaian keduanya?
Ataukah ku harus bangun dan melepaskan ketergantunganku?
Tuhan berikan ridho-Mu atas jalanku
Pelataran, 5 mei 2015, Pkl. 03.00 WIB
Ketika lembut halimun menyusup diantara tulangku yang rapuh
Aku terhanyut dalam pelukan dan ayunan kesombongan
Terlelap dan malas tuk bangkit menyambut limpahan nur Illahiyah
Sibuk mengagumi ke-jahilan akal dan hatiku
Lalai Menikmati ketinggian derajat kema'rifatanku
Sejenak ku tersadar, Saat bola api bergulir menyambut pagi
Tapi ketika keserakahan memeluk mesra tubuhku, membawaku kembali dalam ilusi duniawi
Memenjarakanku dalam fatamorgana kebahagiaan
Menelan bulat, setiap tulang dan dagingku yang membusuk
Haruskah aku menikmati buaian keduanya?
Ataukah ku harus bangun dan melepaskan ketergantunganku?
Tuhan berikan ridho-Mu atas jalanku
Pelataran, 5 mei 2015, Pkl. 03.00 WIB